Selasa, 28 Juli 2009

ketulusan hati

KETULUSAN HATI

Pada suatu pagi, disaat matahari agak malu menampakkan sinarnya, Rizna akan berangkat ke sekolah. Dia berangkat kesekolah setiap harinya dengan sepedanya yang sudah melebihi umurnya. Setelah dari bagasi kecilnya itu dia melihat seorang laki-laki berambut panjang yang kusut dan berpakaian kotor. Dan dilihatnya sampai berada disamping orang laki-laki itu. Rizna juga melihat bahwa orang laki-laki itu adalah orang gila, orang itu tersenyum-senyum sendiri sambil meminum minuman hasil dari mencari dari tempat sampah. Rizna merasa iba dengan laki-laki itu. Dan ia pun melanjutkan untuk pergi ke sekolah.

Keesokan harinya, saat akan pergi ke sekolah, Rizna menjumpai laki-laki yang kemarin ditemuinya di tempat yang sama. Lalu ia kembali ke rumah untuk mengambil sebungkus nasi. Walau sedikit agak takut atau bahkan jijik, tetapi hati kecilnya tetap bekemauan untuk memberikan nasi sebungkus itu. Dan ia melanjutkan aktivitas sehari harinya yaitu berangkat sekolah.

Saat sepulang sekolah dengan sepeda tuanya itu, rizna melihat ada kerumunan orang. Lalu ia menuju ke kerumunan itu dan bertanya kepada seorang ibu tentang apa yang sedang terjadi. Dan ibu tadi menjawab bahwa ada orang gila itu telah mengambil tiga nasi bungkusnya yang akan dijual di warungnya. Dan rasa ingin tahunya memuncak, dan ia menerobos kerumunan orang tadi. Setelah sampai diujung kerumunan tadi Rizna terkejut bahwa orang gila itu adalah arang yang kemarin berada di depan pagar rumahnya. Dan ia berfikir sejenak, apakah ia akan membantu orang gila itu atau membiarkannya. Dan ia mencari ibu tadi dan segera meminta agar orang gila itu dibebaskan. Dan ibu tadi meminta ganti rugi atas tiga nasi bungkus tadi untuk membebaskan orang gila itu. Uang sakunya selama tiga hari kedepan habis untuk ganti rugi. Dan orang gila itu dibebaskan dan segera Rizna pulang ke rumah.

Setelah adzan sholat ashar Rizna berniat untuk membeli sepatu baru. Dan ibunya memberi uang secukupnya dari kepunyaannya. Dan ditengah perjalanan menuju ke toko ia melihat sekelompok orang memukuli orang gila yang tadi siang ditolongnya. Ia befikir sejenak apakah orang ini harus ditolong atau dibiarkan. Lalu Rizna mendatangi sekelompok orang tadi. Kata salah seorang yang berada disana, orang gila itu baru saja menjatuhkan sebuah radio yang berada di Pos Kamling. Dia pun merasa kasihan kepada orang gila tadi. Dan ingin menolongnya kesekian kalinya. Lalu ia mengganti rugi kerusakan pada radio milik warga. Entah mengapa rasa belas kasihan ini selalu muncul dalam hatinya.

Sesampai dirumah ia langsung menempatkan sepedanya didalam bagasi kecilnya. Dan dia ditanya oleh ibunya bahwa mengapa ia tidak jadi membeli sepatu baru. Setelah itu ibunya langsung memarahinya habis-habisan putri satu-satunya itu. Rizna menganggap semua yang dilakukannya adalah sesuatu yang benar. Dan dia tetap teguh untuk membatu sesama.

Jam telah menunjukkan pukul enam pagi, Ibunya yang biasanya memberi uang saku seakan sakunya tertutup rapat untuk mengeluarkan selembar uangpun. Dan Rizna memahaminya, seakan isi hati dapat menerima semua yang terjadi di dalam hidupnya.

Tidak seperti biasanya, hari ini jalan raya serasa sepi dan hampir seisi jalan tertutup oleh kabut yang menghalangi penglihatan anak ini. Dan Rizna menyebrangi jalan yang agak sepi ini. Tiba-tiba, dari arah kanannya sudah ada pengendara motor yang sangat cepat. Dan kematian tinggal menunggu waktu saja. Tetapi, dari belakang seseorang mendorongnya sampai terjatuh kedepan. Sehingga Rizna selamat dan kedua tangannya sedikit berdarah. Den ia segera beranjak untuk mengetahui keadaan orang yang telah menyelamatkannya. Ternyata orang yang akhir-akhir ini ditolongnya telah menyelamatkannya. Didepannnya ada dua orang yang telah berlumuran darah dan nyawanya telah melayang. Dan ia meneteskan air matanya tanpa ia sadari seakan tidak percaya dengan kecelakaan itu.

Sore harinya Rizna dan ibunya telah berada di pemakaman umum. Dan Ibunya merasa bersalah kepada anak satu-satunya ini. Dan ia meneteskan air mata di pipinya yang mengalir bagaikan aliran air sungai. Lalu Rizna memecah kesunyian fikiran ibunya dengan mengusap kedua pipi Ibunya dengan sehelai tisu.Ibunya telah menyadari kebesaran hati anaknya itu.(asr17th)